Minggu, 08 Mei 2011

CRITICAL REVIEW TEORI TEMPAT PUSAT CHRISTALLER STUDI KASUS “FASILITAS EKONOMI KECAMATAN LASEM, KABUPATEN REMBANG”

CRITICAL REVIEW TEORI TEMPAT PUSAT CHRISTALLER
STUDI KASUS “FASILITAS EKONOMI KECAMATAN LASEM, KABUPATEN REMBANG”

A. PENDAHULUAN

Christaller mengikuti pandangan Lloyd. Lloyd melihat bahwa jangkauan luas pasar dari setiap komoditas itu ada batasnya yang dinamakan range dan ada batas minimal dari luas pasarnya agar produsen bisa tetap berproduksi. Luas pasar minimal dinamakan threshold.

Dalam konsep ruang, makin luas wilayah pemasaran suatu barang, ordenya makin tinggi dan orde tertinggi di beri ranking 1. Jadi barang kelompok 4 dikatakan sebagai orde I, barang kelompok 3 dikatakan orde II, barang kelompok 2 dikatakan sebagai orde III dan barang kelompok 1 dikatakan sebagai orde IV. Sehingga diperoleh model Christaller tentang terjadinya model area perdagangan heksagonal

Walaupun heksagonalnya hanya menggambarkan wilayah pemasaran dari barang dengan orde yang berbeda namun Christaller mengaitkan teorinya dengan susunan orde perkotaan. Semakin rendah orde barang yang tersedia maka orde kotanya juga makin rendah.


B. REVIEW LITERATUR : CRITICAL REVIEW TEORI TEMPAT PUSAT CHRISTALLER

Kecamatan Lasem terletak di Kabupaten Rembang, tepatnya di sebelah Timur dari Kecamatan Rembang dan dilalui jalan pantai Utara (jalur Pantura).

Wilayah Kota Lasem merupakan Ibu Kota Kecamatan Lasem, dimana sebagian besar wilayah kota terletak di tengah Kecamatan Lasem. Fasilitas ekonomi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kegiatan perekonomian di suatu wilayah. Fasilitas perekonomian yang ada sebagian besar merupakan fasilitas yang timbul sebagai akibat dari aktivitas pertanian, perdagangan, dan jasa. Fasilitas tersebut berupa 2 pasar daerah 1 pasar desa, 1 bank umum, 2 BPR/BKK, 2 hotel, serta kelompok pertokoan. Jangkauan pelayanan fasilitas ekonomi ini telah sampai Kecamatan Sluke, Pancur, Rembang, dan Pamotan. Hal ini disebabkan oleh adanya pasar kelas I yang mempunyai skala pelayanan luas setingkat kabupaten.

Sebagian besar penduduk Lasem berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti sayur dan sembako di warung yang terletak di desa setempat (desa tempat tinggal responden). Sedangkan sebagian kecil memilih untuk berbelanja di pasar yang terletak di Kecamatan Lasem. Responden tersebut tinggal di Kecamatan Pancur, yang letaknya berdekatan dengan Pasar Jolotudo Kecamatan Lasem, yang didukung oleh adanya jalan kolektor yang menghubungkan Kecamatan Pancur dan Kecamatan Lasem, dan adanya sarana transportasi berupa angkutan pedesaan dan dokar. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah belakang IKK Lasem telah dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakatnya.

Letak pasar kelas I, pertokoan, dan pasar swalayan adalah di sepanjang jalan arteri Semarang-Rembang-Lasem-Tuban-Surabaya dan jalan kolektor Rembang-Pancur-Sedan-Sale, dengan fasilitas transportasi yang memadahi karena dilewati oleh bus, angkudes dan dokar. Aksesibilitas yang mudah membuat fasilitas tersebut menarik untuk dikunjungi, baik oleh masyarakat di Kecamatan lasem, maupun masyarakat di sekitar Kecamatan Lasem, bahkan oleh pengguna jalan arteri dari berbagai arah dan tujuan. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di wilayah belakang IKK Lasem berbelanja kebutuhan khusus di IKK Lasem. Hal ini disebabkan karena kebutuhan khusus merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang memerlukan penduduk ambang yang besar dan jangkauan pasar yang luas.

Desa dengan hirarki yang lebih tinggi akan berfungsi melayani Desa-desa yang berhirarki lebih rendah. Berikut ini adalah peta hirarki kecamatan Lasem.

Desa yang berhirarki I merupakan desa yang mempunyai fasilitas-fasilitas dengan skala pelayanan yang luas. Jika dilihat dari jumlah fasilitas yang tersedia, Desa Gedongmulyo yang merupakan desa berhirarki I, memiliki fasilitas perekonomian, telekomunikasi dan transportasi terbanyak di Kecamatan Lasem sehingga desa ini menjadi pusat pelayanan perekonomian. Fasilitas tersebut berupa fasilitas perbankan (bank umum dan BKK/BPR), pasar daerah (pasar kelas I), pertokoan. Fasilitas-fasilitas tersebut terletak mengelompok di sepanjang jalan arteri Semarang-Rembang-Lasem-Surabaya yang dilalui oleh berbagai moda transportasi, seperti bus, kendaraan pribadi, angkutan umum, dokar, dan ojek sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat di Kecamatan Lasem dan sekitarnya, bahkan dari kabupaten lain.


C. KESIMPULAN

Fasilitas perekonomian berupa pasar di IKK Lasem telah mencukupi kebutuhan masyarakat. Di IKK Lasem telah terdapat 3 pasar daerah dengan berbagai kelas. Diantaranya Pasar Lasem (Kelas I) dengan skala pelayanan terluas setingkat kabupaten, Pasar Jolotundo (Kelas III), dan Pasar Babagan (Kelas III) dengan skala pelayanan yang lebih rendah. Sedangkan toko, pasar swalayan, dan warung akan tumbuh berdasarkan perkembangan sosial-ekonomi masyarakat. Pusat dari hirarki ini adalah di Desa Gedongmulyo.

TEORI TEMPAT PUSAT CHRISTALLER

TEORI TEMPAT PUSAT CHRISTALLER

A. PENDAHULUAN

Walter Christaller pada tahun 1933 menulis buku yang diterje mahkan dengan bahasa Inggris berjudul Central Places In Shouthern Germany. Dalam buku ini Christaller mencoba menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota dan distribusinya di dalam satu wilayah.

B. REVIEW LITERATUR : TEORI TEMPAT PUSAT CHRISTALLER

Christaller mengembangkan modelnya untuk suatu wilayah abstrak dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Wilayahnya adalah dataran tanpa roman, semua adalah datar dan sama.

2. Gerakan dapat dilaksanakan ke segala arah (isotropis surface)

3. Penduduk memiliki daya beli yang sama dan tyersebar secara merata pada seluruh wilayah.

4. Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip minimisasi jarak/biaya.

Christaller mengikuti pandangan Lloyd. Lloyd melihat bahwa jangkauan luas pasar dari setiap komoditas itu ada batasnya yang dinamakan range dan ada batas minimal dari luas pasarnya agar produsen bisa tetap berproduksi. Luas pasar minimal dinamakan threshold. Tidak boleh ada produsen untuk komoditas yang sama dalam ruang threshold tersebut. Apabila ada, salah satunya akan gulung tikar atau kedua-duanya akan gulung tikar dan kemudian akan muncul pengusaha baru.

Kebutuhan masyarakat dibedakan menjadi kelompok-kelompok. Kebutuhan sehari-hari seperti beras, gula dan garam dianggap menjadi kelompok 1. Kebutuhan seperti pakaian dan sepatu yang dibeli sebulan sekali dianggap menjadi kelompok 2. Kebutuhan yang makin sering tidak dibeli seperti televisi dan kulkas dianggap menjadi kelompok 3 sedangkan kebutuhan mewah seperti mobil dan perhiasan mahal dianggap sebagai kelompok 4 yang merupakan kelompok tertinggi. Makin tinggi kelompoknya, range pemasaran thresholdnya semakin luas. Dalam konsep ruang, makin luas wilayah pemasaran suatu barang, ordenya makin tinggi dan orde tertinggi di beri ranking 1. Jadi barang kelompok 4 dikatakan sebagai orde I, barang kelompok 3 dikatakan orde II, barang kelompok 2 dikatakan sebagai orde III dan barang kelompok 1 dikatakan sebagai orde IV. Sehingga diperoleh model Christaller tentang terjadinya model area perdagangan heksagonal, yaitu :

1. Mula-mula terbentuk areal perdagangan satu komoditas berupa lingkaran-lingkaran. Setiap lingkaran memiliki lingkaran pusat dan menggambarkan threshold komoditas tersebut. Lingkaran-lingkaran ini tidak tumpang tindih

2. Lingkaran-lingkaran berupa range dari komoditas tersebut kemudian boleh tumpang tindih.

3. Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal heksagonal yang menutupi seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih.

4. Tiap barang berdasarkan ordenya memiliki heksagonal sendiri.

Berdasarkan modek k=3, pusat dan hierarki yang lebih rendah berada pada sudut dan hierarki yang lebih tinggi sehingga pusat yang lebih rendah berada pada pengaruh dari tiga hierarki yang lebih tinggi lainnya. Christaller melihat ini tidak realisistis sehingga dia menggunakan model k=7 di mana pusat dari beberapa wilayah yang lebih rendah berada pada heksagonal pusat yang lebih tinggi. Walaupun heksagonalnya hanya menggambarkan wilayah pemasaran dari barang dengan orde yang berbeda namun Christaller mengaitkan teorinya dengan susunan orde perkotaan. Semakin rendah orde barang yang tersedia maka orde kotanya juga makin rendah.

Dalam dunia nyata threshold secara ruang dapat menyusut menjadi lebih separonya karena kepadatan penduduk yang cukup tinggi di pusat kota dan makin rendah apabila makin jauh dari pusat kota. Hal ini berarti apabila pengusaha menambah jenis barang yang dijual, ia memperkecil threshold dari usahanya. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku pada sampai batas tertentu. Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa di kota terdapat banyak pedagang yang menjual barang dari berbagai jenis dan memilih berlokasi berdekatan di pasar bukan menyebar.

C. KESIMPULAN

Christaller menjelaskan terjadinya model are perdagangan heksagonal dengan range dan thresholdnya. Dia juga menjelaskan terjadinya konsentrasi produsen berbagai jenis barang, terjadinya konsentrasi produsen dari barang sejenis dan orde produsen.


DASAR-DASAR DAN ANALISIS LOKASI KEGIATAN INDUSTRI

DASAR-DASAR DAN ANALISIS LOKASI KEGIATAN INDUSTRI

A. PENDAHULUAN
• Pada umumnya ada beberapa kondisi yang akhirnya dapat membawa ke persoalan penentuan lokasi pabrik, yaitu:

1. Lokasi di kota besar (city location)
a. Diperlukan tenaga kerja terampil dalam jumlah yang besar.
b. Proses produksi sangat tergantung pada fasilitas-fasilitas yang umumnya hanya terdapat di kota besar seperti listrik, gas dan lain-lain.
c. Kontak dengan suplier dekat dan cepat.
d. Sarana transportasi dan komunikasi mudah didapatkan.
e. Banyak persoalan tenaga kerja.
f. Ekspansi sulit dilakukan dan harga tanah mahal.

2. Lokasi di pinggir kota (suburban location)
a. Semi -skilled atau female labor mudah diperoleh.
b. Menghindari pajak yang berat seperti halnya kalau lokasi terletak di kota besar.
c. Tenaga kerja dapat tinggal berdekatan dengan lokasi pabrik.
d. Rencana ekspansi pabrik akan mudah dilakukan.
e. Populasi tidak begitu besar sehingga masalah lingkungan tidak banyak timbul.

3. Lokasi jauh di luar kota (country location)
a. Lahan yang luas sangat diperlukan baik untuk keadaan sekarang maupun rencana ekspansi yang akan datang.
b. Pajak terendah lebih dikehendaki.
c. Tenaga kerja tidak terampil dalam jumlah besar lebih dikehendaki.
d. Standar upah minimum relatif lebih rendah.
e. Tenaga kerja lebih mudah didapatkan.
f. Baik untuk proses manufakturing produk-produk yang berbahaya.

• Assauri (1993) mengemukakan terdapat dua faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik, yaitu :
1. Faktor Utama meliputi : letak dari pasar, letak dari sumber bahan mentah, terdapatnya fasilitas pengangkutan, supply dari buruh dan tenaga kerja yang tersedia, dan terdapatnya pembangkit tenaga listrik (power station).
2. Faktor Sekunder meliputi : rencana masa depan, biaya dari tanah dan gedung, kemungkinan perluasan, terdapatnya fasilitas service, terdapatnya fasilitas pembelanjaan, persediaan air, tinggi rendahnya pajak dan Undang – Undang Perburuhan, masyarakat di daerah itu (sikap, besar, dan keamanan), iklim, tanah, perumahan yang ada dan fasilitas – fasilitas lainnya.

• Prosedur dalam pemilihan lokasi industri
1. Plant Analisis
2. Field Analisis

B. REVIEW LITERATUR : DASAR-DASAR DAN ANALISIS LOKASI KEGIATAN INDUSTRI
Dari sekian banyak faktor penentuan lokasi pabrik, pada dasarnya panentuan pabrik ditentukan oleh faktor-faktor lokasi industri :
• Skala produksi : biaya per unit dibandingkan dengan jumlah produk
• Keterkaitan : vertikal dan horizontal
• Biaya transportasi : menghubungkan produksi dengan pasar dan biaya per unit dibandingkan dengan jarak yang ditempuh
• Lingkungan bisnis : kebijakan pemerintah dan lokasi pesaing
• Faktor kesejarahan, apabila di suatu tempat memiliki nilai kesejarahan yang dapat menambah permintaan produk dari pabrik tersebut.
• Selera perorangan maupun individu, yaitu berupa budaya ataupun kepercayaan yang dipegang oleh orang yang akan membangun suatu pabrik.
Pemilihan lokasi industri juga memiliki langkah-langkah agar lokasi yang dipertimbangkan merupakan lokasi yang tepat bagi pendiri pabrik. Prosedur dalam pemilihan lokasi industri

1. Plant Analisis
Di dalam plant analisis yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor-faktor apa yang mempengaruhi lokasi industri dari yang tidak berpengaruh sampai yang paling berpengaruh. Selanjutnya hal yang dilakukan adalah penentuan keputusan lokasi industri. Apakah sebaiknya memilih loksai industri baru untuk dibangun pabrik ataukah lebih baik jika melakukan pemindahan dari lokasi industri yang lama (relokasi). Setelah itu, menganalisis kondisi lingkungan lokasi industri yang akan dibangun pabrik. Kondisi lingkungan yang dimaksud adalah keberadaan pesaing dan kemampuan daya saing yang dimiliki. Hal terakhir dalam tahapan ini adalah menentukan opsi-opsi lokasi industri sebagai alternatif.

2. Field Analisis
Di dalam field analisis yang dilakukan adalah melakukan observasi lapangan dari semua opsi-opsi lokasi industri yang telah di list dibagian plant analisis. Pada tahap ini biasanya dapat ditentukan dimana lokasi industri yang paling potensial.

C. KESIMPULAN
Pada dasarnya faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi dapat dikelompokkan menjadi faktor - faktor yang berkaitan dengan input dan output produksi, faktor - faktor yang berkaitan dengan proses produksi dan faktor - faktor yang berkaitan dengan kondisi lingkungan luar.
Agar diperoleh suatu lokasi industri yang tepat untuk dibangun sebuah pabrik, maka diperlukan analisis dengan tahapan-tahapan tertentu yaitu plant analisis dan field analisis.

Senin, 18 Oktober 2010

Resume Artikel EWK

ENTREPRENEURIAL GOVERMENT

Ketika Gorontalo masih merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara, pemerintah daerah hanya bisa mendapatkan pajak sebesar Rp 7,5 milyar ($ 815.000) pada tahun 2000 dari pendapatan daerah. Lima tahun setelah Gorontalo menjadi provinsi ke 32 di Indonesia di bawah pimpinan mantan pengusaha Fadel Muhammad, sosok yang telah menghasilkan lebih dari enam kali samapi Rp46 milyar pada tahun 2006.

Birokrat, menurut ekonom Universitas Indonesia Rhenald Kasali, cenderung menghabiskan uang sebanyak mungkin dalam rangka menghasilkan anggaran belanja lebih besar tahun depan. Sebaliknya pengusaha lebih menitikberatkan dengan bagaimana cara mengelola anggaran secara efisien untuk mendapatkan hasil yang lebih besar atau penghasilan.

Pengusaha Fadel Muhammad terpilih sebagai gubernur. Beberapa bulan setelah pelantikan, Menteri Dalam Negeri mengalokasikan dana pemerintah pusat sebesar Rp35 miliar sebagai modal awal untuk mengembangkan propinsi baru.

Sementara gubernur lain mungkin telah menggunakan dana untuk membangun kantor baru untuk mereka sendiri atau instansi provinsi lain, Fadel menggunakan uang tersebut untuk membangun bandara, pelabuhan laut dan jalan. "Tanpa fasilitas tersebut, provinsi baru tidak akan pernah tumbuh." Kata dia

Ia memiliki tiga tujuan. Yang pertama adalah untuk mengatasi kurangnya fasilitas infrastruktur yang parah di Gorontalo. Yang kedua adalah untuk membantu memastikan hasil pertanian utama dapat diangkut ke pasar atau pelabuhan secara cepat sehingga tidak akan dibiarkan membusuk di sentra produksi. Ketiga, untuk mengakhiri ketergantungan Sulawesi Utara dalam angkutan udara.

Kemudian setelah itu, uang itu dialokasikan untuk membangun gedung dewan lokal legislatif di sisi bukit, dan kantor gubernur di atas bukit dengan pemandangan teluk, danau laut, dan sebagian besar setiap bagian dari provinsi 12.445 kilometer persegi. Sekarang, Fadel telah membangun rumah gubernur terdapat di depan lapangan sepak bola utama.

Fadel memilki fokus pada sektor pertanian sebagai basis untuk mengembangkan ekonomi lokal. Ambisinya adalah menjadikan Gorontalo seperti yang ia sebut “provinsi pertanian” dengan tujuan utamanya adalah pertanian dan sektor perikanan akan menjadi pendukung ekonomi provinsi, dengan produksi jagung sebagai poin masuk.

“Kota pertanian (agropolitan) merupakan alternatif yang mudah bagi perkembangan Gorontalo,” Fadel menegaskan, mengeluarkan fakta bahwa provinsi memiliki stok yang besar pada lahan yang baik untuk ditanami dan banyaknya petani- yang sebenarnya berkonsentrasi memproduksi jagung dengan sumberdaya manusia pada sektor ekonomi lain sangat terbatas dan pendidikan skill dengan tingkat yang rendah.

Kebijakan Fadel telah fokus pada kapasitas kemajuan sumber daya manusia, mengubah sektor pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, kata ekonom lokal, Manto Rahmalo. Fadel juga membebaskan masyarakat miskin dari biaya pendidikan dan kesehatan. Jumlah pusat kesehatan sudah menigkat dari 33 unit pada tahun 2001 menjadi 52 pada tahun 2006, plus ekstra pelayanan kesehatan keliling dan dokter.

Dalam hanya satu inisiatif di sektor ini, pemerintah telah mengeluarkan program yang menyediakan modal dan fasilitas lainnya untuk membantu meningkatkan output Perikanan. Fadel telah lebih agresif di sektor pertanian, mengembangkan teknologi baru untuk meningkatkan hasil pertanian dan kualitas.Dia memobilisasi bupati, walikota, kepala distrik dan kepala desa untuk membantu petani.

Fadel juga aktif memperhatikan pasar luar negeri. Tahun lalu, gubernur dengan Jepang dan Korea Selatan menandatangani kerjasama untuk mengekspor produk Gorontalo. Sekarang Jepang menggunakan sekitar 36% ekspor pertanian Gorontalo, Korea selatan 34,55%, sedangkan sisanya ke Hongkong, India, Filipina, Taiwan, dan Malaysia. Fadel melengkapi Pusat Informasi Jagung Internasional Gorontalo (GIMIC) yang akan menjadi pusat kedua dunia setelah Brazil. Sebesar Rp 15 M dialokasikan untuk fasilitas tiap 5 ha blok di Kabupaten Bone Bolango. Setelah sukses dalam meningkatkan produksi jagung, Fadel ingin mengubah Gorontalo menjadi pusat produksi beras hibrida di negara ini dengan mengkontribusikan 200.000 ton untuk 2 juta ton cadangan beras nasional. Ini adalah target ambisinya.

Bidang lain yang ingin dikembangkan di masa mendatang adalah biodiesel. Pemerintah telah mencanangkan kampanye bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanaman jathrope, tanaman tropis yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi biofuel.


Tidak semua orang senang dengan apa yang terjadi di Gorontalo. Eksportir jagung Leornard Yokom, misalnya, mengeluh tentang kurangnya fasilitas infrastruktur. "Pelabuhan Gorontalo terlalu kecil. Ini harus lebih diperluas sehingga ekspor dapat dipercepat," katanya. Masalah lainnya adalah jalan yang buruk dan kurangnya daya. Hanya jalan yang relatif kecil menghubungkan bandara Jalaludin dan ibukota provinsi.

I AM NOT A COMMON MAN

Fadel mengatasi masalah-masalah, ia bersikap proaktif dan menggunakan koneksinya di pemerintah pusat untuk mendorong terus programnya. Hasilnya enam tahun terakhir anggaran gorontalo meningkat. Produk domestik meningkat pada akhir tahun.

Sebenarnya kita harus mengadopsi pemikiran pengusaha dalam pemerintah. Fadel memperkenalkan budaya bekerjasama pada birokrasi lokal dimana penampilannya dihargai. Dia ingin melanjutkan untuk meningkatkan sektor pertanian dan perikanan. Fadel menambahkan bahwa indonesia masih membutuhkan lebih banyak pengusaha di kedua sektor tersebut yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Fadel mendukung presiden SBY sebab apabila pemerintah gagal, negara akan retak. Kita sebenarnya berada di masa kritis karena populasi yang besar dan beberapa masalah kritis yang harus diatasi tapi juga anggaran yang terbatas untuk menjalankan negara. Indonesia masih rentan terhadap Balkanization dan jalan satu-satunya adalah memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat di wilayah-wilayah.


Teori Losch

  1. PENDAHULUAN

Losch mengatakan bahwa lokasi penjual berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat dijaringnya. Makin jauh dari pasar, konsumen enggan membeli karena biaya transportasi (semakin jauh tempat penjualan) semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar. Losch menyarankan lokasi produksi ditempatkan di dekat pasar. Kontribusi Losch :

  • Losch mengatakan bahwa potensi demand (permintaan) menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi industri.

  • Kritik terhadap pendahulunya yang selalu berorientasi pada biaya terkecil, padahal yang biasanya dilakukan oleh industri adalah memaksimalkan keuntungan.

Losch menjelaskan bagaimana economic Landscape terjadi, yang merupakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Teori Losch bertujuan untuk menemukan pola lokasi industri sehingga diketemukan keseimbangan spasial antar lokasi. Losch berpendapat bahwa dalam lokasi industri yang tampak tidak teratur dapat diketemukan pola keberaturan. Asumsi Losch :

  • Suatu daerah yang homogen dengan distribusi sumber bahan mentah

  • Sarana angkutan yang merata serta selera konsumen yang sama

Untuk mencapai keseimbangan, ekonomi ruang Losch harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

  • Setiap lokasi industri harus menjamin keuntungan maksimum bagi penjual maupun pembeli.

  • Terdapat cukup banyak usaha pertanian dengan penyebaran cukup merata sehingga seluruh permintaan yang ada dapat dilayani.

  • Terdapat free entry dan tidak ada petani yang memperoleh super-normal profit sehingga tidak ada rangsangan bagi petani dari luar untuk masuk dan menjual barang yang sama di daerah tersebut.

  • Daerah penawaran adalah sedemikian hingga memungkinkan petani yang ada untuk mencapai besar optimum.

  • Konsumen bersikap indifferent terhadap penjual manapun dan satu-satunya pertimbangan untuk membeli adalah harga yang rendah.

  1. REVIEW LITERATUR : TEORI LOSCH

Dengan makin banyaknya petani yang menawarkan produk yang sama, maka akan terjadi dua keadaan :

1. Seluruh daerah akan terlayani.

2. Persaingan antar petani penjual akan semakin tajam dan saling berebut pembeli.

Akhirnya luas daerah pasar masing-masing petani penjual akan mengecil dan dalam keseimbangannya akan terbentuk segienam beraturan. Bentuk ini dipilih karena menggambarkan daerah penjualan terbesar yang masih dapat dikuasai setiap penjual dan berjarak minimum dari tempat lokasi kegiatan produksi yang bersangkutan. Keseimbangan yang dicapai dalam teori Losch berasumsi bahwa harga hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, oleh karenanya keseimbangan akan terganggu bila salah seorang penjual menaikkan harga jualnya. Keputusan ini mengakibatkan tidak hanya pasar menyempit karena konsumen tak mampu membeli tapi sebagian pasar akan hilang dan direbut oleh penjual yang berdekatan. Untuk memperluas jangkauan pasar dapat dilakukan dengan menjual barang yang berbeda jenis dari yang sudah ditawarkan.

  1. KESIMPULAN

Pada intinya, Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari pasar, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat berjualan semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar dan identik dengan penerimaan terbesar.

SUMBER : Perencanaan Pembangunan Wilayah, Drs. Robinson Tarigan, M.R.P

Teori Weber

  1. PENDAHULUAN

Teori lokasi yang dikemukakan oleh Alfred Weber berawal dari tulisannya yang berjudul Uber den Standort der Industrien pada tahun 1909.

Weber memiliki beberapa asumsi utama, antara lain:

  • Lokasi bahan baku ada di tempat tertentu saja (given)

  • Situasi dan ukuran tempat konsumsi adalah tertentu juga, sehingga terdapat suatu persaingan sempurna

  • Ada beberapa tempat pekerja yang bersifat tak mudah bergerak (immobile)

Menurut Weber agar lokasi dapat optimal, maka memilih lokasi dengan biaya minimal dengan cara indeks bahan. Weber juga mengelompokkan industri menjadi dua, yaitu industri yang weight losing (industri yang hasil produksinya memiliki berat yang lebih ringan daripada bahan bakunya. Weber juga menjelaskan mengenai adanya gelaja aglomerasi industri. Gejala aglomerasi merupakan pemusatan produksi di lokasi tertentu. Pemusatan produksi ini dapat terjadi dalam satu perusahaan atau dalam berbagai perusahaan yang mengusahakan berbagai produk.

  1. REVIEW LITERATUR : TEORI WEBER

Dengan asumsi-asumsi Weber, maka biaya transportasi akan tergantung dari dua hal, yaitu bobot barang dan jarak pengangkutan. Bila yang menjadi penentu bukan bobot melainkan volume, maka biaya pengangkutan tergantung pada adalah volume barang dan jarak pengangkutan. Pada prinsipnya, yang harus diketahui adalah unit yang merupakan hubungan fungsional dengan biaya serta jarak yang harus ditempuh dalam pengangkutan itu (memiliki tarif sama). Di sini dapat diasumsikan secara implisit bahwa harga satuan angkutan kemana-mana sama, sehingga perbedaan biaya angkutan hanya disebabkan oleh perbedaan berat benda yang diangkut dan jarak yang ditempuh.

Untuk menjelaskan tentang indeks biaya saya menggunaknan contoh pabrik kertas. Dengan indeks material > 1, maka biaya transportasi bahan baku menuju pabrik akan lebih mahal apabila dibandingkan dengan biaya transportasi produk jadi menuju pasaran (market). Oleh karena itu, lokasi pabrik seharusnya diletakkan di dekat sumber bahan baku (resources oriented). Sebaliknya, bagi industri yang berjenis weight gaining, maka lokasi industri lebih baik diletakkan di dekat pasar. Penggunaan kedua prinsip untuk menentukan lokasi industri di atas akan mengalami kesulitan apabila berat benda yang masuk ke dalam perhitungan tidak jauh berbeda.

Aglomerasi industri menarik industri dari lokasi biaya angkutan minimum, karena membawakan berbagai bentuk penghematan ekstern (aglomeration economies). Perpindahan mengakibatkan kenaikan biaya angkutan, sehingga dilihat dari segi ini tidak lagi optimum. Oleh karena itu, industri tersebut baru akan pindah bila penghematan yang dibawa oleh aglomeration economies lebih besar daripada kenaikan biaya angkutan yang dibawakan kepindahan tersebut.

  1. KESIMPULAN

Pada intinya, lokasi akan optimal apabila pabrik berada di sentral, karena biaya transportasi dari manapun akan rendah. Biaya tersebut berkaitan dengan dua hal, yaitu transportasi bahan mentah yang didatangkan dari luar serta transportasi hasil produksi yang menuju ke pasaran.

IMPLIKASI TEORI VON THUNEN PADA ZONA LAHAN DAN STRUKTUR RUANG KOTA

A.PENDAHULUAN
1.Karakteristik Kota
Kota merupakan basis ekonomi dengan kepadatan penduduk yang tinggi yang menjadi interaksi intensif antara kegiatan ekonomi dan sosial sehingga lokasi sangat mempengaruhi tempat aktivitas dan interaksinya.
2.Kota merupakan sebuah sistem
Karakteristik kota akan mempengaruhi bentuk kota, bentuk kota akan mempengaruhi guna lahan sedangkan guna lahan akan menentukan nilai lahan.
3.Model Struktur Ruang Kota Klasik

  • Consentric zone theory
  • Sector theory
  • Multiple nuclei
4.Struktur Kota dan Von Thunen
Adanya perbedaan zona lahan dan struktur ruang kota
Harga adalah sewa terhadap aksesibilitas

B.REVIEW LITERATUR : IMPLIKASI TEORI VON THUNEN PADA ZONA LAHAN DAN STRUKTUR RUANG KOTA
Teori Von Thunen pada dasarnya meninjau sebuah lokasi dari faktor jarak dan biaya transport dari pusat kota yang akhirnya berimplikasi terhadap zona lahan dan struktur ruang kota. Menurut Von Thunen sewa lahan paling mahal berada di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar. Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan antara harga jual dengan biaya produksi, jenis-jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Maka dari itu diagram cincin ini membentuk suatu zona-zona pemakaian lahan.
Von Thunen juga menekankan biaya transport pada teorinya yang berarti harga pada dasarnya adalah sewa terhadap aksesibilitas. Sehingga jaringan transportasi dan perilaku (gaya hidup) masyarakat juga akan mempengaruhi struktur ruang kota.

C.KESIMPULAN
Melalui analisis Von Thunen menggunakan kurva permintaan yang menghubungkan sewa lahan dengan jarak pasar, di dapat sebuah diagram cincin yang menggambarkan zona-zona pemakaian lahan. Selain itu biaya transport yang ditekankan Von Thunen menjelaskan bahwa harga adalah sewa terhadap aksesibilitas. Sehingga dapat dikatakan Teori Von Thunen memiliki implikasi terhadap zona lahan dan struktur ruang kota.

Template by:

Free Blog Templates