Minggu, 08 Mei 2011

DASAR-DASAR DAN ANALISIS LOKASI KEGIATAN INDUSTRI

DASAR-DASAR DAN ANALISIS LOKASI KEGIATAN INDUSTRI

A. PENDAHULUAN
• Pada umumnya ada beberapa kondisi yang akhirnya dapat membawa ke persoalan penentuan lokasi pabrik, yaitu:

1. Lokasi di kota besar (city location)
a. Diperlukan tenaga kerja terampil dalam jumlah yang besar.
b. Proses produksi sangat tergantung pada fasilitas-fasilitas yang umumnya hanya terdapat di kota besar seperti listrik, gas dan lain-lain.
c. Kontak dengan suplier dekat dan cepat.
d. Sarana transportasi dan komunikasi mudah didapatkan.
e. Banyak persoalan tenaga kerja.
f. Ekspansi sulit dilakukan dan harga tanah mahal.

2. Lokasi di pinggir kota (suburban location)
a. Semi -skilled atau female labor mudah diperoleh.
b. Menghindari pajak yang berat seperti halnya kalau lokasi terletak di kota besar.
c. Tenaga kerja dapat tinggal berdekatan dengan lokasi pabrik.
d. Rencana ekspansi pabrik akan mudah dilakukan.
e. Populasi tidak begitu besar sehingga masalah lingkungan tidak banyak timbul.

3. Lokasi jauh di luar kota (country location)
a. Lahan yang luas sangat diperlukan baik untuk keadaan sekarang maupun rencana ekspansi yang akan datang.
b. Pajak terendah lebih dikehendaki.
c. Tenaga kerja tidak terampil dalam jumlah besar lebih dikehendaki.
d. Standar upah minimum relatif lebih rendah.
e. Tenaga kerja lebih mudah didapatkan.
f. Baik untuk proses manufakturing produk-produk yang berbahaya.

• Assauri (1993) mengemukakan terdapat dua faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik, yaitu :
1. Faktor Utama meliputi : letak dari pasar, letak dari sumber bahan mentah, terdapatnya fasilitas pengangkutan, supply dari buruh dan tenaga kerja yang tersedia, dan terdapatnya pembangkit tenaga listrik (power station).
2. Faktor Sekunder meliputi : rencana masa depan, biaya dari tanah dan gedung, kemungkinan perluasan, terdapatnya fasilitas service, terdapatnya fasilitas pembelanjaan, persediaan air, tinggi rendahnya pajak dan Undang – Undang Perburuhan, masyarakat di daerah itu (sikap, besar, dan keamanan), iklim, tanah, perumahan yang ada dan fasilitas – fasilitas lainnya.

• Prosedur dalam pemilihan lokasi industri
1. Plant Analisis
2. Field Analisis

B. REVIEW LITERATUR : DASAR-DASAR DAN ANALISIS LOKASI KEGIATAN INDUSTRI
Dari sekian banyak faktor penentuan lokasi pabrik, pada dasarnya panentuan pabrik ditentukan oleh faktor-faktor lokasi industri :
• Skala produksi : biaya per unit dibandingkan dengan jumlah produk
• Keterkaitan : vertikal dan horizontal
• Biaya transportasi : menghubungkan produksi dengan pasar dan biaya per unit dibandingkan dengan jarak yang ditempuh
• Lingkungan bisnis : kebijakan pemerintah dan lokasi pesaing
• Faktor kesejarahan, apabila di suatu tempat memiliki nilai kesejarahan yang dapat menambah permintaan produk dari pabrik tersebut.
• Selera perorangan maupun individu, yaitu berupa budaya ataupun kepercayaan yang dipegang oleh orang yang akan membangun suatu pabrik.
Pemilihan lokasi industri juga memiliki langkah-langkah agar lokasi yang dipertimbangkan merupakan lokasi yang tepat bagi pendiri pabrik. Prosedur dalam pemilihan lokasi industri

1. Plant Analisis
Di dalam plant analisis yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor-faktor apa yang mempengaruhi lokasi industri dari yang tidak berpengaruh sampai yang paling berpengaruh. Selanjutnya hal yang dilakukan adalah penentuan keputusan lokasi industri. Apakah sebaiknya memilih loksai industri baru untuk dibangun pabrik ataukah lebih baik jika melakukan pemindahan dari lokasi industri yang lama (relokasi). Setelah itu, menganalisis kondisi lingkungan lokasi industri yang akan dibangun pabrik. Kondisi lingkungan yang dimaksud adalah keberadaan pesaing dan kemampuan daya saing yang dimiliki. Hal terakhir dalam tahapan ini adalah menentukan opsi-opsi lokasi industri sebagai alternatif.

2. Field Analisis
Di dalam field analisis yang dilakukan adalah melakukan observasi lapangan dari semua opsi-opsi lokasi industri yang telah di list dibagian plant analisis. Pada tahap ini biasanya dapat ditentukan dimana lokasi industri yang paling potensial.

C. KESIMPULAN
Pada dasarnya faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi dapat dikelompokkan menjadi faktor - faktor yang berkaitan dengan input dan output produksi, faktor - faktor yang berkaitan dengan proses produksi dan faktor - faktor yang berkaitan dengan kondisi lingkungan luar.
Agar diperoleh suatu lokasi industri yang tepat untuk dibangun sebuah pabrik, maka diperlukan analisis dengan tahapan-tahapan tertentu yaitu plant analisis dan field analisis.

Senin, 18 Oktober 2010

Resume Artikel EWK

ENTREPRENEURIAL GOVERMENT

Ketika Gorontalo masih merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara, pemerintah daerah hanya bisa mendapatkan pajak sebesar Rp 7,5 milyar ($ 815.000) pada tahun 2000 dari pendapatan daerah. Lima tahun setelah Gorontalo menjadi provinsi ke 32 di Indonesia di bawah pimpinan mantan pengusaha Fadel Muhammad, sosok yang telah menghasilkan lebih dari enam kali samapi Rp46 milyar pada tahun 2006.

Birokrat, menurut ekonom Universitas Indonesia Rhenald Kasali, cenderung menghabiskan uang sebanyak mungkin dalam rangka menghasilkan anggaran belanja lebih besar tahun depan. Sebaliknya pengusaha lebih menitikberatkan dengan bagaimana cara mengelola anggaran secara efisien untuk mendapatkan hasil yang lebih besar atau penghasilan.

Pengusaha Fadel Muhammad terpilih sebagai gubernur. Beberapa bulan setelah pelantikan, Menteri Dalam Negeri mengalokasikan dana pemerintah pusat sebesar Rp35 miliar sebagai modal awal untuk mengembangkan propinsi baru.

Sementara gubernur lain mungkin telah menggunakan dana untuk membangun kantor baru untuk mereka sendiri atau instansi provinsi lain, Fadel menggunakan uang tersebut untuk membangun bandara, pelabuhan laut dan jalan. "Tanpa fasilitas tersebut, provinsi baru tidak akan pernah tumbuh." Kata dia

Ia memiliki tiga tujuan. Yang pertama adalah untuk mengatasi kurangnya fasilitas infrastruktur yang parah di Gorontalo. Yang kedua adalah untuk membantu memastikan hasil pertanian utama dapat diangkut ke pasar atau pelabuhan secara cepat sehingga tidak akan dibiarkan membusuk di sentra produksi. Ketiga, untuk mengakhiri ketergantungan Sulawesi Utara dalam angkutan udara.

Kemudian setelah itu, uang itu dialokasikan untuk membangun gedung dewan lokal legislatif di sisi bukit, dan kantor gubernur di atas bukit dengan pemandangan teluk, danau laut, dan sebagian besar setiap bagian dari provinsi 12.445 kilometer persegi. Sekarang, Fadel telah membangun rumah gubernur terdapat di depan lapangan sepak bola utama.

Fadel memilki fokus pada sektor pertanian sebagai basis untuk mengembangkan ekonomi lokal. Ambisinya adalah menjadikan Gorontalo seperti yang ia sebut “provinsi pertanian” dengan tujuan utamanya adalah pertanian dan sektor perikanan akan menjadi pendukung ekonomi provinsi, dengan produksi jagung sebagai poin masuk.

“Kota pertanian (agropolitan) merupakan alternatif yang mudah bagi perkembangan Gorontalo,” Fadel menegaskan, mengeluarkan fakta bahwa provinsi memiliki stok yang besar pada lahan yang baik untuk ditanami dan banyaknya petani- yang sebenarnya berkonsentrasi memproduksi jagung dengan sumberdaya manusia pada sektor ekonomi lain sangat terbatas dan pendidikan skill dengan tingkat yang rendah.

Kebijakan Fadel telah fokus pada kapasitas kemajuan sumber daya manusia, mengubah sektor pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, kata ekonom lokal, Manto Rahmalo. Fadel juga membebaskan masyarakat miskin dari biaya pendidikan dan kesehatan. Jumlah pusat kesehatan sudah menigkat dari 33 unit pada tahun 2001 menjadi 52 pada tahun 2006, plus ekstra pelayanan kesehatan keliling dan dokter.

Dalam hanya satu inisiatif di sektor ini, pemerintah telah mengeluarkan program yang menyediakan modal dan fasilitas lainnya untuk membantu meningkatkan output Perikanan. Fadel telah lebih agresif di sektor pertanian, mengembangkan teknologi baru untuk meningkatkan hasil pertanian dan kualitas.Dia memobilisasi bupati, walikota, kepala distrik dan kepala desa untuk membantu petani.

Fadel juga aktif memperhatikan pasar luar negeri. Tahun lalu, gubernur dengan Jepang dan Korea Selatan menandatangani kerjasama untuk mengekspor produk Gorontalo. Sekarang Jepang menggunakan sekitar 36% ekspor pertanian Gorontalo, Korea selatan 34,55%, sedangkan sisanya ke Hongkong, India, Filipina, Taiwan, dan Malaysia. Fadel melengkapi Pusat Informasi Jagung Internasional Gorontalo (GIMIC) yang akan menjadi pusat kedua dunia setelah Brazil. Sebesar Rp 15 M dialokasikan untuk fasilitas tiap 5 ha blok di Kabupaten Bone Bolango. Setelah sukses dalam meningkatkan produksi jagung, Fadel ingin mengubah Gorontalo menjadi pusat produksi beras hibrida di negara ini dengan mengkontribusikan 200.000 ton untuk 2 juta ton cadangan beras nasional. Ini adalah target ambisinya.

Bidang lain yang ingin dikembangkan di masa mendatang adalah biodiesel. Pemerintah telah mencanangkan kampanye bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanaman jathrope, tanaman tropis yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi biofuel.


Tidak semua orang senang dengan apa yang terjadi di Gorontalo. Eksportir jagung Leornard Yokom, misalnya, mengeluh tentang kurangnya fasilitas infrastruktur. "Pelabuhan Gorontalo terlalu kecil. Ini harus lebih diperluas sehingga ekspor dapat dipercepat," katanya. Masalah lainnya adalah jalan yang buruk dan kurangnya daya. Hanya jalan yang relatif kecil menghubungkan bandara Jalaludin dan ibukota provinsi.

I AM NOT A COMMON MAN

Fadel mengatasi masalah-masalah, ia bersikap proaktif dan menggunakan koneksinya di pemerintah pusat untuk mendorong terus programnya. Hasilnya enam tahun terakhir anggaran gorontalo meningkat. Produk domestik meningkat pada akhir tahun.

Sebenarnya kita harus mengadopsi pemikiran pengusaha dalam pemerintah. Fadel memperkenalkan budaya bekerjasama pada birokrasi lokal dimana penampilannya dihargai. Dia ingin melanjutkan untuk meningkatkan sektor pertanian dan perikanan. Fadel menambahkan bahwa indonesia masih membutuhkan lebih banyak pengusaha di kedua sektor tersebut yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Fadel mendukung presiden SBY sebab apabila pemerintah gagal, negara akan retak. Kita sebenarnya berada di masa kritis karena populasi yang besar dan beberapa masalah kritis yang harus diatasi tapi juga anggaran yang terbatas untuk menjalankan negara. Indonesia masih rentan terhadap Balkanization dan jalan satu-satunya adalah memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat di wilayah-wilayah.


Teori Losch

  1. PENDAHULUAN

Losch mengatakan bahwa lokasi penjual berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat dijaringnya. Makin jauh dari pasar, konsumen enggan membeli karena biaya transportasi (semakin jauh tempat penjualan) semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar. Losch menyarankan lokasi produksi ditempatkan di dekat pasar. Kontribusi Losch :

  • Losch mengatakan bahwa potensi demand (permintaan) menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi industri.

  • Kritik terhadap pendahulunya yang selalu berorientasi pada biaya terkecil, padahal yang biasanya dilakukan oleh industri adalah memaksimalkan keuntungan.

Losch menjelaskan bagaimana economic Landscape terjadi, yang merupakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Teori Losch bertujuan untuk menemukan pola lokasi industri sehingga diketemukan keseimbangan spasial antar lokasi. Losch berpendapat bahwa dalam lokasi industri yang tampak tidak teratur dapat diketemukan pola keberaturan. Asumsi Losch :

  • Suatu daerah yang homogen dengan distribusi sumber bahan mentah

  • Sarana angkutan yang merata serta selera konsumen yang sama

Untuk mencapai keseimbangan, ekonomi ruang Losch harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

  • Setiap lokasi industri harus menjamin keuntungan maksimum bagi penjual maupun pembeli.

  • Terdapat cukup banyak usaha pertanian dengan penyebaran cukup merata sehingga seluruh permintaan yang ada dapat dilayani.

  • Terdapat free entry dan tidak ada petani yang memperoleh super-normal profit sehingga tidak ada rangsangan bagi petani dari luar untuk masuk dan menjual barang yang sama di daerah tersebut.

  • Daerah penawaran adalah sedemikian hingga memungkinkan petani yang ada untuk mencapai besar optimum.

  • Konsumen bersikap indifferent terhadap penjual manapun dan satu-satunya pertimbangan untuk membeli adalah harga yang rendah.

  1. REVIEW LITERATUR : TEORI LOSCH

Dengan makin banyaknya petani yang menawarkan produk yang sama, maka akan terjadi dua keadaan :

1. Seluruh daerah akan terlayani.

2. Persaingan antar petani penjual akan semakin tajam dan saling berebut pembeli.

Akhirnya luas daerah pasar masing-masing petani penjual akan mengecil dan dalam keseimbangannya akan terbentuk segienam beraturan. Bentuk ini dipilih karena menggambarkan daerah penjualan terbesar yang masih dapat dikuasai setiap penjual dan berjarak minimum dari tempat lokasi kegiatan produksi yang bersangkutan. Keseimbangan yang dicapai dalam teori Losch berasumsi bahwa harga hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, oleh karenanya keseimbangan akan terganggu bila salah seorang penjual menaikkan harga jualnya. Keputusan ini mengakibatkan tidak hanya pasar menyempit karena konsumen tak mampu membeli tapi sebagian pasar akan hilang dan direbut oleh penjual yang berdekatan. Untuk memperluas jangkauan pasar dapat dilakukan dengan menjual barang yang berbeda jenis dari yang sudah ditawarkan.

  1. KESIMPULAN

Pada intinya, Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari pasar, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat berjualan semakin mahal. Produsen harus memilih lokasi yang menghasilkan penjualan terbesar dan identik dengan penerimaan terbesar.

SUMBER : Perencanaan Pembangunan Wilayah, Drs. Robinson Tarigan, M.R.P

Teori Weber

  1. PENDAHULUAN

Teori lokasi yang dikemukakan oleh Alfred Weber berawal dari tulisannya yang berjudul Uber den Standort der Industrien pada tahun 1909.

Weber memiliki beberapa asumsi utama, antara lain:

  • Lokasi bahan baku ada di tempat tertentu saja (given)

  • Situasi dan ukuran tempat konsumsi adalah tertentu juga, sehingga terdapat suatu persaingan sempurna

  • Ada beberapa tempat pekerja yang bersifat tak mudah bergerak (immobile)

Menurut Weber agar lokasi dapat optimal, maka memilih lokasi dengan biaya minimal dengan cara indeks bahan. Weber juga mengelompokkan industri menjadi dua, yaitu industri yang weight losing (industri yang hasil produksinya memiliki berat yang lebih ringan daripada bahan bakunya. Weber juga menjelaskan mengenai adanya gelaja aglomerasi industri. Gejala aglomerasi merupakan pemusatan produksi di lokasi tertentu. Pemusatan produksi ini dapat terjadi dalam satu perusahaan atau dalam berbagai perusahaan yang mengusahakan berbagai produk.

  1. REVIEW LITERATUR : TEORI WEBER

Dengan asumsi-asumsi Weber, maka biaya transportasi akan tergantung dari dua hal, yaitu bobot barang dan jarak pengangkutan. Bila yang menjadi penentu bukan bobot melainkan volume, maka biaya pengangkutan tergantung pada adalah volume barang dan jarak pengangkutan. Pada prinsipnya, yang harus diketahui adalah unit yang merupakan hubungan fungsional dengan biaya serta jarak yang harus ditempuh dalam pengangkutan itu (memiliki tarif sama). Di sini dapat diasumsikan secara implisit bahwa harga satuan angkutan kemana-mana sama, sehingga perbedaan biaya angkutan hanya disebabkan oleh perbedaan berat benda yang diangkut dan jarak yang ditempuh.

Untuk menjelaskan tentang indeks biaya saya menggunaknan contoh pabrik kertas. Dengan indeks material > 1, maka biaya transportasi bahan baku menuju pabrik akan lebih mahal apabila dibandingkan dengan biaya transportasi produk jadi menuju pasaran (market). Oleh karena itu, lokasi pabrik seharusnya diletakkan di dekat sumber bahan baku (resources oriented). Sebaliknya, bagi industri yang berjenis weight gaining, maka lokasi industri lebih baik diletakkan di dekat pasar. Penggunaan kedua prinsip untuk menentukan lokasi industri di atas akan mengalami kesulitan apabila berat benda yang masuk ke dalam perhitungan tidak jauh berbeda.

Aglomerasi industri menarik industri dari lokasi biaya angkutan minimum, karena membawakan berbagai bentuk penghematan ekstern (aglomeration economies). Perpindahan mengakibatkan kenaikan biaya angkutan, sehingga dilihat dari segi ini tidak lagi optimum. Oleh karena itu, industri tersebut baru akan pindah bila penghematan yang dibawa oleh aglomeration economies lebih besar daripada kenaikan biaya angkutan yang dibawakan kepindahan tersebut.

  1. KESIMPULAN

Pada intinya, lokasi akan optimal apabila pabrik berada di sentral, karena biaya transportasi dari manapun akan rendah. Biaya tersebut berkaitan dengan dua hal, yaitu transportasi bahan mentah yang didatangkan dari luar serta transportasi hasil produksi yang menuju ke pasaran.

IMPLIKASI TEORI VON THUNEN PADA ZONA LAHAN DAN STRUKTUR RUANG KOTA

A.PENDAHULUAN
1.Karakteristik Kota
Kota merupakan basis ekonomi dengan kepadatan penduduk yang tinggi yang menjadi interaksi intensif antara kegiatan ekonomi dan sosial sehingga lokasi sangat mempengaruhi tempat aktivitas dan interaksinya.
2.Kota merupakan sebuah sistem
Karakteristik kota akan mempengaruhi bentuk kota, bentuk kota akan mempengaruhi guna lahan sedangkan guna lahan akan menentukan nilai lahan.
3.Model Struktur Ruang Kota Klasik

  • Consentric zone theory
  • Sector theory
  • Multiple nuclei
4.Struktur Kota dan Von Thunen
Adanya perbedaan zona lahan dan struktur ruang kota
Harga adalah sewa terhadap aksesibilitas

B.REVIEW LITERATUR : IMPLIKASI TEORI VON THUNEN PADA ZONA LAHAN DAN STRUKTUR RUANG KOTA
Teori Von Thunen pada dasarnya meninjau sebuah lokasi dari faktor jarak dan biaya transport dari pusat kota yang akhirnya berimplikasi terhadap zona lahan dan struktur ruang kota. Menurut Von Thunen sewa lahan paling mahal berada di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar. Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan antara harga jual dengan biaya produksi, jenis-jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Maka dari itu diagram cincin ini membentuk suatu zona-zona pemakaian lahan.
Von Thunen juga menekankan biaya transport pada teorinya yang berarti harga pada dasarnya adalah sewa terhadap aksesibilitas. Sehingga jaringan transportasi dan perilaku (gaya hidup) masyarakat juga akan mempengaruhi struktur ruang kota.

C.KESIMPULAN
Melalui analisis Von Thunen menggunakan kurva permintaan yang menghubungkan sewa lahan dengan jarak pasar, di dapat sebuah diagram cincin yang menggambarkan zona-zona pemakaian lahan. Selain itu biaya transport yang ditekankan Von Thunen menjelaskan bahwa harga adalah sewa terhadap aksesibilitas. Sehingga dapat dikatakan Teori Von Thunen memiliki implikasi terhadap zona lahan dan struktur ruang kota.

Minggu, 05 September 2010

Review



REVIEW ARTIKEL

MORFOLOGI DAN TIPOLOGI KOTA TRENGGALEK





Kawasan Trenggalek telah dihuni selama ribuan tahun, sejak jaman pra-sejarah.
Berdasar data dapat diketahui jejak nenek moyang yang tersebar dari Pacitan menuju ke Wajak Tulungagung dengan jalur-jalur sebagai berikut :

a)Dari Pacitan menuju Wajak melalui Panggul, Dongko, Pule, Karangan dan menyusuri
sungai Ngasinan menuju Wajak Tulungagung;

b) Dari Pacitan menuju Wajak melalui Ngerdani, Kampak, Gandusari dan menuju Wajak
Tulungagung;
c) Dari Pacitan menuju Wajak dengan menyusuri Pantai Selatan Panggul, Munjungan,
Prigi dan akhirnya menuju ke Wajak Tulungagung (Trenggalek.go.id)

Trenggalek adalah salah satu kota di Jawa Timur yang merupakan bekas daerah dari Kerajaan Mataram. Dengan adanya Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram pecah menjadi dua menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Sebagian besar wilayah Trenggalek menjadi daerah kekuasaan Bupati Ponorogo yang berada di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta.

Setelah Perang Diponegoro usai wilayah Kota Trenggalek menjadi milik Pemerintahan Kolonial Belanda. Pemerintah Belanda menjadikan daerah sekitar alun-alun sebagai kawasan pemerintahan. Kawasan pemukiman pada saat Pemerintahan Belanda dibagi menjadi permukiman bangsawan dan pemerintah , permukiman Belanda, permukiman kaum Cina dan terakhir permukiman pribumi.

Setelah Indonesia merdeka Trenggalek menagalami perkembangan meskipun lambat. Alun-alun Trenggalek yang memotong sumbu jalan utama mengalami perluasan. Kedatangan penduduk China juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan Trenggalek. Namun karena minoritas penduduk China pemukimannya dibumuhanguskan. Namun, pada masa sekarang ini penduduk China keturunan banyak bermukim di sekitar pasar pon dan banyak dari mereka yang bermata pencaharian sebagai pedagang. Akibatnya, kawasan perdagangan dengan pasar pon sebagai pusatnya meluas.

Menurut saya adanya peradaban di kawasan Trenggalek disebabkan oleh adanya sumber air yaitu Sungai Ngasinan. Selain itu kawasan ini juga berdekatan dengan pantai selatan. Adanya sumber air ini membuat manusia prasejarah menempati wilayah ini, mengingat air adalah kebutuhan pokok makhluk hidup.

Mulai dari Belanda menguasai pulau jawa sampai pada saat ini, Trenggalek mengalami perluasan kawasan pemerintahan yaitu di sekitar alun-alun yang dilintasi jalan utama. Hal ini wajar karena alun-alun adalah simbol sebuah wilayah, biasanya juga menjadi titik pusat dari suatu kota. Di sekitar alun-alun memang memiliki kawasan perdagangan dan pemerintahan yang jauh lebih berkembang daripada di daerah pinggir kota. Hal ini didukung oleh dekatnya alun-alun dengan jalan utama yang merupakan sarana transportasi paling penting.

Kawasan perdagangan di Kota Trenggalek letaknya dekat dengan kawasan pemukiman, terutama pemukiman penduduk China keturunan. Hal ini disebabkan karena penduduk China keturunan sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang. Selain itu kawasan perdagangan dekat dengan jalan-jalan yang berfungsi sebagai sarana transportasi.

sumber : http://www.digilib.unmer.net/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlnode-gdl-jou-2004-rifanhando-330


Artikel Tugas MAK

MORFOLOGI DAN TIPOLOGI KOTA TRENGGALEK

Jurnal Arsitektur Mitakat, volume 5, nomor 1, Maret 2007.
Journal from JIPTUNMERPP / 2008-01-09 09:44:52
Oleh : Rifan Handoko, Department_of_Architecture__Engineering_-_Merdeka_ (mintakat@unmer.ac.id)
Dibuat : 2007-03-01, dengan file

Keyword : Morfologi kota, tipologi kota, Trenggalek.


Perkembangan Kota Trenggalek yang dikaji dengan tinjauan historis dan studi morfologi dan tipologi dikelompokkan ke dalam kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan kawasan permukiman.

Pusat pemerintahan pertama kali dibentuk pada abad 18 sebagai daerah kekuasaan Mataram dan terletak di Surondakan yang berupa Kadipaten. pada pemerintahan kolonial Belanda banyak penambahan di sekitar alun-alun untuk fungsi dan Kadipaten menjadi Kota Kawedanan dari Kabupaten Tulungagung. Pada masa kemerdekaan terjadi perluasan alun-alun yang memotong sumbu jalan utama dan perubahan fungsi.

Kawasan permukiman berciri tradisional dengan penggunaan toponim Jawa seperti Pandean, Dabangsan, sasoetan, tamertan, Jambangan, Ngantru, Ngemplak dan Sawahan. pada masa pemerintahan kolonial Belanda dilakukan pembagian menurut tingkatan masyarakatnya yaitu : permukiman bangsawan dan pemerintah, permukiman Belanda, permukiman kaum China dan terakhir permukiman pribumi. saat ini hal tersebut tidak tampak lagi karena dibumihanguskannya pusat kota pada tahun 1949 dan minoritas penduduk China.

Kawasan perdagangan dimulai dengan pasar tradisional yaitu pasar pon yang terletak di jl. Panglima Sudirman Kelurahan Sumbergedong. Kegiatan perdagangan ini juga diwarnai oleh kedatangan etnis China yang bermukim di sekitar pasar Pon. Sampai saat ini perekonomian kota relatif lambat dan cenderung tertarik ke arah Tulungagung.




Template by:

Free Blog Templates